Bila melihat judul di atas mungkin kurang lazim, tapi demikianlah perjalanan cinta bila dibuat jenjang. Artinya bila cinta itu karena alasan wajah cantik/ganteng, uang/harta itu sifatnya masih tradisional. Atinya itu masih hal yang paling dasar dan nilainya paling rendah. Biasanya cinta demikian itu cinta masih cinta monyet, rapuh dan nomaden. Sebaiknya ketika di sadari, alasan cinta tersebut masih lemah, alangkah baiknya segera diupayakan peningkatan ke arah yang lebih tinggi.
Tingkat yang kedua itu adalah Umum, pasaran, hal yang biasa terjadi. Cinta yang didasarkan pada sesuatu atau beberapa kelebihan yang dimiliki. Misalnya orangnya lebih pintar, pintar main musik, nanyinya bagus, prestasinya di sekolah atau di kantor lebih hebat. Berbagai keunggulan yang dimiliki itulah yang membuat kekaguman. Bila cinta tersebut tidak berkembang ketingkat yang lebih tinggi, maka cinta ini juga pada akhirnya rapuh. Ketika keunggulan itu hilang atau bukan berarti apa-apa atau tertutupi oleh kelemahan yang lebih besar, maka rasa cinta itu akan hilang, yang tinggal rasa sakit, penderitaan, stress bahkan keputusasaan, syuku bila masih bertahan tidak terjerumus lebih jauh. Jadi bila diketahui bahwa kadar cinta masih ditingkat ini, sebaiknya ditingkatkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tingkat ke-3 itu adalah cinta atas nama pribadi, karena menurut penilaian pribadi bahwa dia mencintainya, sebahagian bisa disampaikan, yang nyata dalam diri, akan tetapi selebihnya sulit diungkapkan, karena kebanyakan karena alasan pribadi saja. Model cinta ini, bila tidak hati-hati dan rendah hati, bisa menimbulkan pertentangan dengan diri orang dekat kepadanya, misalnya orang tua, saudara dan sebagainya. Ada baiknya, siempunya cinta secara pribadi ini, segera menyadari bahwa alasan tersebut harus ditingkatkan nilainya.
Tingkat ke-4 adalah Cinta dengan alasan Tuhan. Mereka yakin dan percaya, bahwa Tuhan lah yang mempertemukan dan menjodohkan mereka. Atas segala sesuatunya, disebutkan atas nama Tuhan. Bila sedang mengalami masalah, pertentangan dan hal negatif lainnya, maka akan berserah kepada Tuhan. Karena alasan Tuhan maka permasalahan, ketidak cocokan dan pertentangan lainnya, akan di serahkan kepada Petunjuk Tuhan. Kondisi ini benar dan baik, dengan catatan siempunya cinta tetap demikian, karena Tuhan. Bila mampu tabah dan bertahan maka kemungkinan besar akan langeng. Akan tetapi bila iman dan keyakinan tergerus oleh perjalanan waktu, tekanan masalah, godaan dan cobaan lainnya, maka jenis cinta ini juga bisa mengalami kekandasan, meskipun umumnya hanya sebahagian kecil. Namun demikian perlu ada usaha-usaha untuk meningkatkan kwalitas cinta tersebut.
Tingkat-5 adalah Cinta Agave, merupakan cinta dengan tingkat tertinggi. Menurut Wikipedia Indonesia (https://id. wikipedia.org/wiki/Agape), Agape dalam tradisi Kristen dianggap sebagai kasih yang paling mulia, sebab identik dengan kasih Allah, juga Allah sendiri.[4] Salah satunya terdapat di 1 Yohanes.[4]
Dalam kitab orang Kristen, khususnya Perjanjian Baru, yaitu kitab Roma 5, cinta agape memiliki kriteria, yaitu suci dan syarat akan pengorbanan.
Tingkat yang kedua itu adalah Umum, pasaran, hal yang biasa terjadi. Cinta yang didasarkan pada sesuatu atau beberapa kelebihan yang dimiliki. Misalnya orangnya lebih pintar, pintar main musik, nanyinya bagus, prestasinya di sekolah atau di kantor lebih hebat. Berbagai keunggulan yang dimiliki itulah yang membuat kekaguman. Bila cinta tersebut tidak berkembang ketingkat yang lebih tinggi, maka cinta ini juga pada akhirnya rapuh. Ketika keunggulan itu hilang atau bukan berarti apa-apa atau tertutupi oleh kelemahan yang lebih besar, maka rasa cinta itu akan hilang, yang tinggal rasa sakit, penderitaan, stress bahkan keputusasaan, syuku bila masih bertahan tidak terjerumus lebih jauh. Jadi bila diketahui bahwa kadar cinta masih ditingkat ini, sebaiknya ditingkatkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tingkat ke-3 itu adalah cinta atas nama pribadi, karena menurut penilaian pribadi bahwa dia mencintainya, sebahagian bisa disampaikan, yang nyata dalam diri, akan tetapi selebihnya sulit diungkapkan, karena kebanyakan karena alasan pribadi saja. Model cinta ini, bila tidak hati-hati dan rendah hati, bisa menimbulkan pertentangan dengan diri orang dekat kepadanya, misalnya orang tua, saudara dan sebagainya. Ada baiknya, siempunya cinta secara pribadi ini, segera menyadari bahwa alasan tersebut harus ditingkatkan nilainya.
Tingkat ke-4 adalah Cinta dengan alasan Tuhan. Mereka yakin dan percaya, bahwa Tuhan lah yang mempertemukan dan menjodohkan mereka. Atas segala sesuatunya, disebutkan atas nama Tuhan. Bila sedang mengalami masalah, pertentangan dan hal negatif lainnya, maka akan berserah kepada Tuhan. Karena alasan Tuhan maka permasalahan, ketidak cocokan dan pertentangan lainnya, akan di serahkan kepada Petunjuk Tuhan. Kondisi ini benar dan baik, dengan catatan siempunya cinta tetap demikian, karena Tuhan. Bila mampu tabah dan bertahan maka kemungkinan besar akan langeng. Akan tetapi bila iman dan keyakinan tergerus oleh perjalanan waktu, tekanan masalah, godaan dan cobaan lainnya, maka jenis cinta ini juga bisa mengalami kekandasan, meskipun umumnya hanya sebahagian kecil. Namun demikian perlu ada usaha-usaha untuk meningkatkan kwalitas cinta tersebut.
Tingkat-5 adalah Cinta Agave, merupakan cinta dengan tingkat tertinggi. Menurut Wikipedia Indonesia (https://id. wikipedia.org/wiki/Agape), Agape dalam tradisi Kristen dianggap sebagai kasih yang paling mulia, sebab identik dengan kasih Allah, juga Allah sendiri.[4] Salah satunya terdapat di 1 Yohanes.[4]
| “ | Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih | ” |
|
| ||
| “ | Bagaimana jika bunga-bunga menolak mekar dan menyemarakkan keharuman?[5] Bunga-bunga akan kehilangan tujuan untuk dinikmati oleh siapa saja.[5] Namun ketika bunga mekar dan memberikan harumnya, tujuannya terungkap.[5] Kasih agape semarak, dan harumnya membawa sukacita dan kehidupan.[5] | ” |
— Marcus
| ||
Sifat dari agape yang identik dengan cinta penuh pengorbanan diperlihatkan dalam Injil Yohanes.[5] Cinta seperti inilah yang pernah dilakukan oleh Yesus yang dimaknai sebagai cinta Allah menebus dosa manusia, yang Ia anggap sebagai sahabat-sahabat yang dikasihin-Nya.[5]
| “ | Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. | ” |
Selain itu, Nancy Missler dalam buku Understanding God's Love memberikan gambaran menarik tentang agape, yaitu cinta yang menghamba. [6] Ia mengutip kisah Yesus yang membasuh kaki para murid dalam Injil Yohanes.[6]
| “ | Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. | ” |
Jadi, dalam kekristenan, cinta yang paling tinggi adalah cinta agape, yaitu cinta yang benar-benar tulus, suci, tidak berpamrih, bahkan sarat akan pengorbanan diri.[6]
Demikian lah pembahasan cinta kasih ini, semoga menginspirasi dan memberi semangat untuk memperjuangankan cinta itu hingga tingkat tertinggi yaitu cinta Agave. Sehingga harapan dan doa, pada saat melangsungkan pernikahan yaitu SELAMAT BERBAHAGIA. Harapan tersebut akan tercapai ketika Cinta itu sudah mencapai tingkat tertinggi, segala tantangan berupa kesenangan, kesejahteraan dan sebaliknya hal yang menyakitkan sekalipun akan dapat dinikmati dan menjadi sumber kebahagiaan, karena Cinta Agave itu. Terima kasih.YFS


Tidak ada komentar:
Posting Komentar