Pendaftaran Gratis - Klik di Banner

header niko 728 x 90

Senin, 08 Februari 2016

VALENTINE'S DAY, HARAM ATAU HALAL

Paganisme merupakan penyembahan berhala, di yakini beberapa ahli merupakan asal muasal Valentine's day. Kemudian Gereja Katolik mengadopsinya dan melakukan beberapa perubahan yang paling mendasar adalah cinta kasih sebagai landasan kegiatan tersebut, dirobah menjadi cinta kasih yang tulus dan suci antar manusia sebagai anugrah dari Tuhan Allah seperti yang di wujudkan oleh Yesus Kristus. Kegiatan Valentine's Day kemudian mengalami assimilasi dari berbagai keyakinan dan adat istiadat setempat, yang dipengaruhi para individu dan golongan masyarakat yang terlibat merayakannya. Memang hingga kini, tetap menjadi perdebatan antara boleh atau terlarang, dosa atau berkat, haram atau halal dan sebagainya. Perdebatan saling mengisi di antara individu atau golongan, namun di kalangan tertentu, terutama anak muda, perayaan Valentine's Day tetap berjalan, baik secara terang-terangan maupun dibelakang layar, ada yang merayakannya berdasarkan kasih sayang yang benar dan ada yang menggunakan perayaan tersebut sebagai suatu kesempatan untuk berbuat sesuka hatinya seperti melampiaskan hawa nafsu, perbuatan tidak senonoh, perayaan berhura-hura, mabuk-mabukan dan sebagainya.


Tanggal 14 Februari, setiap tahunnya, akan dihiasi oleh sekuntum mawar merah, manisnya coklat, lucunya boneka warna-warni. Restoran, rumah makan, hotel, mal, dunia hiburan dan dunia rekreasi akan ramai mulai dari anak muda berpasangan atau berkelompok, orang tua, anak-anak bahkan beberapa orang yang sudah uzur, berlomba merayakan Valentine's Day, menunjukkan betapa cinta dan  sayangnya kepada pasangannya, temannya, kelompoknya, saudaranya, orangtuanya, anaknya dan orang-orang terkasih yang hidup bersamanya.
Memang menyimak sejarah terjadinya Perayaan Valentine's Day, ada dua sisi, dari sisi penyembahan berhala dan aktivitas yang dilakukan St.Valentine yang benyak memberikan berkat pada sakramen pernikahan bagi tentara Roma yang dilarang menikah oleh raja (pada jaman Raja Claudius II) karena tenaga mereka dibutuhkan untuk berperang.  Karena perbuatan tersebut dianggap melanggar titah raja, maka St.Valentine di hukum dan di eksekusi pada tanggal 14 Februari. Kemudian, para anak muda yang simpatik mendatangi kuburan St.Valentine membawa bunga berwarna-warni dan ditaburkan di atas kuburannya. Kebiasaan tabur bunga tersebut berlanjut setiap tahun tanggal 14 Februari, bahkan para pasangan yang belum menikah atau belum dapat jodoh, konon bila berdoa dan menabur bunga di kuburan St.Valentine, maka banyak yang sukses menemukan pasangan hidupnya.
Hanya saja, karena hal tersebut dianggap gereja kurang sesuai dengan semangat kerohanian, dimana lebih banyak penyimpangan daripada hal yang benar dan rohani, maka gereja tidak lagi secara nyata mendukung dan melegalisasi acara Valentine's Day.


Bagaimana dengan para kaum sekuler atau liberal, pebisnis dan para mafia. Karena melihat potensi bisnis sangat besar, maka mereka berupaya mengorganisir dan memotivasi khususnya kaum muda untuk merayakan Valentine's Day dengan besar-besaran dan meriah. Para artis dunia di organisir dan di biayai membuat panggung-panggung hiburan untuk menarik simpatik para kaum muda, menambah gairah orang masuk golongan mereka menjadi liberal, menikmati bisnis dunia gemerlap dan menjadi partner mereka. Inilah kejadian yang paling nyata kita lihat dalam setiap perayaan Valentin's Day. Sehingga terlalu banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan pada saat perayaan tersebut, dengan alasan menyamapaikan dan menikmati kasih sayang, yang sering berlebihan dan keterlaluan. Misalnya atas nama cinta, dengan suka rela menyerahkan seluruh jiwa raga, sehingga ada semacam kewajiban atau kebanggan, menyerahkan keperawanan pada perayaan Valentine's Day. Gereja melihat situasi ini lebih kuat berhala dan haramnya, sehingga semenjak tahun 1969, secara resmi Valentine's Day ditinggalkan, tidak dimasukkan sebagai bagian dari pengajaran gereja. Semoga bermanfaat. Salam hangat dalam cinta kasih yang tulus dan murni. Amin











Tidak ada komentar:

Posting Komentar